Jangan Teruskan!!
Katanya "untuk apa bertahan kalau ujungnya tetap berpisah"
katanya "untuk apa berusaha kalau ujungnya tetap sia-sia"
katanya "untuk apa mencoba kalau ujungnya hanya pengalaman".
Jika ingin menyalahkan hidup dan keadaan, maka stop!!
berhentilah bertahan, berhentilah berusaha, dan berhentilah mencoba. Toh gambarannya sudah jelas, tidak ada harapan.
Kita hanya melakukan sesuatu yang tidak ada artinya.
Begitulah persepsi sesaat ketika seorang anak labil mengambil kesimpulan.
Iiitu aaaku!! (Sheila on 7)
Berpisah dengan seseorang yang kita cintai, entah karena tidak berjodoh atau ditinggalkan dengan kematian.
Itu karena Allah lebih menyayanginya dibanding kita, Dia ingin bertemu dengannya, melepaskan segala keluh kesah, rasa sakit, beban, selama hidup yang ia rasakan, bukankah itu romantis?
Berpisah dengan barang kesayangan. Itu adalah kehilangan sesuatu yang membuat sakit hati dan cukup membuat lidah mengeluarkan sumpah serapah.
Itu karena kita merasa barang itu adalah milik kita, padahal sejatinya yang ada pada diri kita 'hanyalah titipan belaka'.
Sebuah kisah, Lihatlah mang parkir, ia tidak marah ketika motor-motor yang menjadi tanggung jawabnya, diambil kembali oleh pemiliknya'.
Tenanglah hati, Kutipan Dalam kitab 'Maroqil Ubudiyah' bahwa "tidaklah sesuatu itu hilang dari kita, tanpa Allah akan menggantinya".
|
Berusaha sekeras mungkin sampai mengorbankan waktu, harta, dan tenaga tidaklah sia-sia!!
Sebuah kegagalan adalah sebuah pelajaran. Berusaha lagi dan lagi membuat kegagalan sebelumnya menjadi jalan yang terbuka menuju kesuksesan, dan mengurangi jatah gagal kita, menuju pencapaian target yang diinginkan.
Dalam berusaha bahasa kerennya berikhtiar, kita mendorong kemampuan diri kita sampai batas paling maksimal.
Bukankan itu keren? bukankah itu suatu yang membanggakan, dan patut diacungi jempol. Karena kita mau untuk keluar dari zona ternyaman kita, dan membakar diri kita untuk terus berkarya. dan memeperbaiki diri.
Cuman ada warning juga sih saat kita berikhtiar pol Polan. ikhtiarlah secukupnya dan tidak terlalu memaksakan. lalu barengi ikhtiar itu dengan ibadah semaksimal maksimalnya.
Karena Dalam kutipan maqolah kitab "Hikam" "Orang yang serius dalam urusan dunia dan sembarangan dalam urusan akhirat, itu menandakan buta hatinya"
Begitu menakutkan bukan, ketika kita terlalu terlena mengejar dunia sampai lupa akhirat.
Teruslah berusaha teruslah berikhtiar teruslah memperbaiki diri, meski keadaan tidak mendukung, meski orang-orang malah julid, Meski kita ahli maksiat sekalipun. Teruslah berusaha menjadi lebih baik.
Soalnya dalam kitab Qomiat tugyan' ada kutipan "Allah lebih menyukai para pelaku maksiat yang berusaha untuk bertaubat dan memperbaiki diri, di banding seorang ahli ibadah tapi malah memputusasakan orang lain." Semangat.
Komentar
Posting Komentar